Rabu, 10 Juli 2019
Nasihat Untuk Bong Supit
Pagi hari, Bu Narsih berjalan bersama petani wanita yang lain melewati pematang sawah. Mereka berjalan berurutan seperti barisan gerbong kereta yang melaju. Ketika seseorang paling depan berjalan agak menyerong mengikuti alur pematang sawah, yang lain pun mengikuti. Barisan ibu-ibu itu pulang membawa beberapa alat bertani dan rantang tempat makan yang kosong. Mereka semua meninggalkan suami yang masih bekerja di sawah. Merka pulang untuk melanjutkan tugas rumahnya masing-masing.Sampai di rumah, Bu Narsih melihat ke sekeliling rumah. Ia mengamati kiranya apa saja yang perlu dibenahinya. Di pelataran rumah terdapat dua pohon besar, yakni pohon rambutan dan pohon mangga.
Pohon yang hanya berbuah musiman itu kerap dan banyak sekali menjatuhkan daun-daunnya dan membuat pekerjaan baru bagi Bu Narsih. Selesai mencuci kakinya di pancuran banmu belakang rumah, ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman. Dalam hatinya seringkali mengeluh karena daun-daun pohon yang selalu mengotori halaman, namun di sisi lain ia sangat bersyukur akan adanya kedua pohon tersebut. Keduanya membuat pelataran tidak terkena panas matahari di kala siang, sehingga membuat rumahnya tampak asri dibanding dengan halam rumah tetangga lain yang terang dan disemen penuh.
Usai menyapu, Bu Narsih mengumpulkan dedaunan itu dan dibakarnya. Tugasnya belum selesai sampai disitu. Di dalam rumah, Bu Narsih masih harus merapihkan dan menyapu, mencuci baju, dan memasak. Ia setia dengan pekerjaannya sebagai seorang istri meskipun pagi hari harus turut pergi ke sawah dan pulang ke rumah untuk merapihkan keadaan rumah.Tiba-tiba dari pintu samping rumahnya, datang seorang wanita. Ia adalah Bu Sarwi. Ia datang dengan tergopoh-gopoh dan raut wajah penuh kegelisahan. Ia mengetok pintu rumah Bu Narsih berulang kali dan membuat Bu Narsih yang sedang mencuci baju harus cepat-cepat membasuh tangannya dan membukakan pintu.
Bu Narsih, Bu...Bu Narsih.” Teriaknya dari luar Dengan cepat Bu Narsih membukakan pintu, Dalem, ada apa Bu Sarwi? Ada apa Reno Bu, Reno anakku dibawa oleh pemimpim pekerja Belanda itu” Ya Allah, kemana bu, dibawa kemana katanya Reno? Mau dibawa untuk dipekerjakan di kota. Tapi Reno masih kecil bu, dia masih harus sekolah.” jawab Bu Sarwi sembari menggegrek menangis. Sabar Bu, sabar. Kita bisa berbuat apa bu? memang seperti itulah ketentuannya jika sudah disunat. Semua ini salah suami saya bu, dia yang menginginkan Reno agar cepat besar dan bekerja. Padahal saya sendiri tidak ikhlas Bu, saya tidak ridho anak saya yang masih 10 tahun itu harus dibawa dan harus bekerja. Sudah, sudah...toh selama ini Reno pun tak mau bersekolah, jadi buat apa jika tidak disunat dan bekerja.
Bu Narsih pun mencoba menenangkan hati Bu Sarwi. Ia mengantar Bu Sarwi pulang ke rumahnya dengan keadaan Reno yang sudah dibawa oleh pekerja Belanda itu. Di desa itu memang sudah menjadi tradisi, bagi anak laki-laki yang sudah disunat maka dianggapnya sudah besar. Pernah waktu itu karena tidak ada satu-pun yang disunat, akhirnya para Belanda itu mendatangkan mantri untuk melakukan supit masal. Namun, tetap saja para penduduk mempercayakan anak-anaknya untuk di supit di tempat bong supit yang terkenal di desa tersebut. Karena merasa tidak nyaman dengan kejadian tadi. Sepulang suaminya dari sawah. Bu Narsih menceritakan semuanya kepada sang suami yang juga adalah seorang kepala desa.
Ia meminta agar sang suami berbicara baik-baik kepada bong supit untuk tidak menyupit anak-anak dibawah 10 tahun karena mereka harus sekolah dan belajar lebih banyak lagi. Akhirnya setelah melakukan perundingan yang cukup lama, Bong Supit menyetujui perintah dari kepala desa tersebut meskipun ia harus menanggung kasihan kepada warga yang ingin menyupit anaknya sebelum umur 10 tahun karena kekurangan biyaya untuk menyekolahkan anak dan memberinya kebutuhan hidup. Tapi bagaimana pun, semua ini memang demi kebaikan masyarakat itu sendiri agar lebih bekerja keras dan bisa menyekolahkan anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna, tidak hanya berhenti menjadi pembantu para Belanda itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar