Rabu, 10 Juli 2019
Ngajak Duluan
Gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya pelan sambil meregangkan badannya dan kembali memejamkan mata namun tak berniat untuk tidur kembali. Tiba-tiba matanya terbuka lebar dan menguap. Tidak segera bangun, ia malah berdiam diri. Dilihatnya jam di ponsel yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Gadis itu bangun dari pembaringannya dan segera menatap layar ponsel dengan lebih serius. Dilihatnya kontak pesan yang ternyata kosong. Gadis itu kembali merebahkan badannya dengan raut wajah seperti seseorang yang baru saja mengalami kekalahan.
Tiba-tiba gagang pintu kamarnya bergerak. Tak lama kemudian terdengar suara wanita memanggilnya. Tiiii, Muti...bangun nak udah siang” ternyata sang ibu membangunkannya.
Muti segera berdiri dan menguncir rambutnya yang ikal sembari menjawab panggilan sang ibu, “Ya bu, Muti udah bangun. Setelah menguncir rambutnya, Muti segera merapihkan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Ia melihat sekeliling sudah sepi, tinggal ibunya saja yang kelihatan sibuk memisah-misahkan baju dan pakaian dalam yang hendak direndam. Ayahnya sudah berangkat kerja dan kedua adiknya sudah pergi ke sekolah. Hanya ibu dan dirinya yang berada di rumah dan sama-sama merapihkan rumah.
Dua minggu ini, Muti berada di rumah. Ia baru saja keluar dari pekerjaannya karena habis kontrak. Sambil mencari pekerjaan yang lain, ia memilih untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Tidak menganggur sepenuhnya, ia masih menerima beberapa pesanan barang online shop dari konsumen.
Teman-temannya di rumah ternyata banyak yang sudah berkeluarga. Hal itu membuatnya kesepian dan iri. Setiap kali bertemu teman, dirinya selalu saja ditanyai kerja dimana atau kapan menikah. Hatinya semakin gelisah, namun sayangnya sampai saat ini dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan lagi.
Ketika sedang membantu ibu mencuci piring, Muti kembali teringat akan pesan singkat di ponselnya. Ia belum juga mendapatkan balasan dari seseorang yang dimaksud. Kali ini bukan persoalan jualan, Muti baru saja mengajak seorang laki-laki yang baru saja dekat dengan dirinya untuk menikah. Mereka sudah lama berkirim pesan dan akrab, namun baru sekali sekali saja bertemu. Entah apa yang membuatnya berani mengutarakan hal itu. Bahkan, Muti mengutarakan kepadanya agar tidak diberi mahar yang aneh dan tidak perlu juga menggelar acara pesta pernikahan. Ia meminta hanya dinikahi di KUA saja, asalkan sah.
Namun, sang laki-laki bingung dan masih belum percaya diri. Hal itu jelas membuat Muti malu, seakan-akan dirinya baru saja ditolak oleh seorang laki-laki. Seringkali dirinya membuka ponsel untuk mengecek apakah ada pesan dari dia yang masuk.Karena tidak tahan menunggu jawaban, Muti kembali mengiriminya sebuah pesanMas, gimana nih, aku ngajak kamu nikah, serius lho Pesan itu baru dibalasnya setelah tiga jam kemudian, “Aku masih bingung dan belum percaya secepat itu Lagian mas juga belum tau apa-apa tentang kamu Ti Dengan perasaan kecewa, Muti kembali membalasnya, “Ya udah, ngga usah dibahas lagi Terus menyerah gitu? wah ok deh.
Siapa yang nyerah, kalau belum tau ya kenalan kita Yaudah kenalan dulu aja, lagian baru ketemu satu kali. Temenan aja dulu, siapa tau demenan. Mas itu orangnya gak mudah jatuh hati. Tapi sekalinya udah cinta, ya bakal susah berpindah hati Muti sangat tidak menyukai balasan tersebut, “Hmmm berlebihan Ok deh. Emang begitu. Kalau dipikir pun juga begitu Hmm, jangan berlarut-larut mas, karena nggak semuanya sama Ya ya deh Ok Muti semakin malas menjawab. Ia berniat untuk tidak lagi menghubungi dia lagi. Tapi, laki-laki itu malah justru semakin sering menghubungi Muti, bahkan lewat telfon suara. Hal itu jelas membuat Muti semakin penasaran dan membuat Muti kembali membahasnya.
Hari selanjutnya, Muti bertanya tentang hal yang sama. Itu pun karena si laki-laki terus saja menggodanya Tii, aku butuh istri lho. Sepi begini Lho, kemarin aku ajak nikah aja nggak mau” Yaudah, sekarang kamu atur aja apa persyaratannya, nanti disini mas siapin Beneran? Muti sempat bertanya-tanya apakah ini memang beneran atau hanya bercanda. Setelah ditanyakan lagi, laki-laki itu memang benar akan menikahi Muti. Muti segera mengutarakannya kepada orang tua dan bertemulah kedua keluarga tersebut. Hari pernikahan ditetapkan tidak jauh dari hari pertemuan itu.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar