Rabu, 10 Juli 2019

Merelakan


Di bulan Juli yang lalu, di batas tempat antara penumpang dan pengantar berpisah, Putra mencium kening Nana seraya berkata lirih.Jangan menangis, esok kita kan bertemu kembali. Tunggu aku Dengan diiringi sengguk tangisnya, Nana memeluk erat tubuh Putra seperti benci sekali dengan perpisahan. Putra kembali membisiki sesuatu sembari mengelus lirik rambut Nana Jangan takut pada perpisahan. Ini lah kehidupan, kamu harus kuat. Carilah banyak kesibukan hingga kamu tak merasa waktu kian berlalu dan kita akan segera bertemu kembali Iya kalau kamu tidak bertemu dengan dia” jawab Nana sambil menangis Aku usahakan Nana mulai melepas pelukan eratnya dan memandang wajah Putra yang lumayan juga nelangsa namun tetap berusaha untuk tegar agar tangisan Nana tidak semakin menjadi.

Hati-hati” jawab Nana hanya itu saja yang bisa Nana ucapkan karena memang tidak kuat lagi untuk berkata-kata. Jika terlalu banyak bicara, air matanya akan semakin deras membasahi kedua pipinya. Putra kembali mencium kening Nana dan mulai melangkah memasuki koridor menuju pintu pesawat. Mereka masih saling menatap hingga sama-sama tidak saling terlihat lagi.Nana yang tinggal sendiri di bandara masih tak kuat menahan sedihnya. Ia menangis di sepanjang koridor bandara menuju tempat parkir motornya. Banyak orang memperhatikan dirinya. Tangisnya malah semakin menjadi bahkan sampai dirinya mengendarai sepeda motornya.

Tiba-tiba suara dering telfon menyadarkan lamunan Nana tentang perpisahannya dengan Putra satu tahun yang lalu. Sedari tadi dirinya memang sedang asyik berbalas pesan, tapi karena lawan chattnya sedikit lama membalas, sembari menunggu dan memang tidak sedang ada kesibukan yang lain maka ia berdiam diri dan akhirnya melamun. Suara itu adalah suara pesan dari Putra. Setelah satu tahun yang lalu dan saling lost contact, tiba-tiba Putra menghubunginya kembali.  Ia tidak mengingkari janjinya, ia mengajak Nana untuk bertemu dan main bersama lagi. Dengan banyak sekali pertimbangan, akhirnya Nana mau diajak untuk pergi bersama dengan Putra.

Kali ini Putra tidak menjemput Nana sampai di rumah dan Nana pun memang tidak ingin dijemputnya di rumah. Mereka berdua sepakat untuk bertemu di sebuah ruko agen tiket pemberangkatan bus. Ketika bertemu, keduanya masih ingin saling berpelukan, namun tidak seerat dulu. Keduanya saling ingin melepas dan mulai membicarakan kabar masing-masing. Satu tahun tak berkabar rupanya keduanya sudah memiliki kekasih satu sama lain. Nana dikenalkan dengan seseorang laki-laki, keponakan dari salah seorang tetangganya. Hubungan mereka sudah sampai tahap perkenalan dengan orang tua dan akan menikah secepatnya tanpa harus ada acara lamaran terlebih dahulu.

Sementara Putra, sebenarnya sudah memiliki kekasih bahkan sejak dua tahun yang lalu. Pertemuan antara dirinya dan Nana satu tahun yang lalu adalah karena bermain belakang. Namun kesetiaan kepada kekasihnya masih ada hingga saat ini, buktinya Putra tidak pernah mau melepaskan meskipun terkadang ia juga sering teringat Nana yang merupakan cinta pertamanya.Bus yang ditunggu sudah berhenti di depan agen. Nana dan Putra segera mencangklek tas masing-masing dan naik ke dalam bus. Putra selalu sama, ia tak pernah meninggalkan Nana di belakang, ia menunggu dan membiarkan Nana untuk jalan dan masuk ke dalam bus terlebih dahulu. Mereka memilih tempat duduk di tengah. Berdua saling bercerita dan bertukar kabar hingga lelah dan terlelap dalam tidurnya.

Sesampainya di kota tujuan, Nana dan Putra tidak ada bedanya seperti seorang kekasih yang saling jatuh cinta, namun terkadang canggung ketika keduanya sama-sama menyadari telah memiliki seorang kekasih. Keduanya mencoba untuk tidak saling membahas dan tetap fokus pada perjalanan mereka. Ketika beristirahat di sebuah kamar hotel, Nana dan Putra terlihat semakin canggung melebihi sebelumnya. Keduanya tampak tidak lagi nyaman dengan suasana, terlebih karena selalu teringat akan status mereka. Raut wajah Nana sudah terlihat seperti bendungan yang menampung segala kata yang bermunculan dan ingin disampaikan.

Putra membiarkan kesempatan kepadanya untuk bercerita dengan membuka sedikit pembicaraan yang mengacu pada hal tampaknya ingin Nana sampaikan. Mereka berdua segera memberesi semua barang bawaannya dan pergi ke terminal. Ada dua bus yang akan berangkat. Mereka sengaja menaiki bus yang berbeda walaupun satu arah. Semua itu mereka lakukan demi kebaikan keduanya meskipun keduanya pun tidak pernah tahu siapakah jodoh yang Tuhan takdirkan karena manusia hanya bisa berencana, namun tetap Tuhan yang mengatur semuanya. Setidaknya Nana dan Putra sudah mengambil keputusan yang baik bagi diri mereka masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar