Rabu, 10 Juli 2019
Sang Nenek dan Revolusi Toko Rotinya
Setiap kali mendatangi toko roti di seberang jalan depan alun-alun kota, aku kerap mendapati seorang nenek yang duduk dengan tenang di samping seorang kasir. Beliau duduk pada kursi rodanya. Aku selalu mengira bahwa nenek tersebut adalah pemilik toko roti itu. Saking lamanya duduk di tempat itu, sang nenek sampai jeli jika terdapat rak roti yang kosong, beliau segera memanggil karyawan untuk mengisinya lagi dan merapihkan rak tersebut. Roti di toko itu memang terkenal enak, rasanya berbeda dengan roti-roti yang lain. Bahkan roti-roti yang ada di toko itu jauh lebih enak dibanding dengan roti yang aku beli di mall-mall tempat biasa aku berkumpul dengan teman-teman. Seringkali setiap melewati jalan ini atau jika sedang mengunjungi alun-alun, aku menyempatkan untuk membeli roti itu barang satu atau dua.
Dan yang lebih membuat aku tertarik datang kesana adalah gaya bangunan tokonya yang mirip dengan bangunan-bangunan orang inggris. Pelayananya juga mengenakan baju-baju ala wanita pekerja di inggris. Mereka memakai baju terusan dan bertopi. Musik yang diputar pun selalu musik klasik khas bangsa inggris. Ingin sekali aku berbincang barang sebentar dengan nenek itu, namun beliau selalu terlihat sibuk mencari-cari rak roti yang kosong dan memanggil-manggil pelayan untuk mengisinya lagi. Jadi, selalu aku tunda saja untuk berkenalan dengan sang nenek.
Terakhir kali aku membeli roti itu sudah sekitar dua minggu yang lalu. Aku pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan dinas. Tapi, setelah sepekan berlalu dan dua kali aku mengunjungi toko roti itu, sang nenek tidak aku temukan, begitu juga dengan kursi rodanya. Karena sangat penasaran, maka bertanyalah aku kepada seorang gadis cantik yang setia menjadi kasir di toko itu. Katanya, sang nenek sedang dirawat di rumah sakit. Seketika itu aku terkejut dan spontan saja bertanya penyakit apa yang diderita oleh sang nenek. Si gadis kasir yang cantik itu memberitahuku bahwa nenek menderita gagal ginjal. Saat ini, beliau sedang dioperasi. Aku hanya bisa turut bersedih dan mendoakan semoga nenek lekas diberi kesembuhan.
Beberapa minggu kemudian, aku kembali melewati jalan depan alun-alun. Di dalam mobil bersama teman-teman yang lain, aku cepat bersiap-siap untuk melihat ke arah toko itu. Tidak hanya sang nenek yang tidak berada di dalamnya, roti dan gadis-gadis muda yang menjadi pelayannya tidak terlihat. Dari depan jalan terlihat kaya “tutup” tergantung pada pintu toko. Biasanya, meskipun tutup, roti-roti itu masih ada dan terlihat berjejer di rak. Tapi, sekarang tidak ada sama sekali. Semua rak tampak bersih tanpa roti satupun. Beberapa minggu setelahnya, baru aku sadari bahwa toko roti itu sudah tutup dan tidak berjualan lagi. Aku yakin pasti sang nenek sudah meninggal, maka dari itu tidak ada lagi yang meneruskan usaha rotinya.
Aku pun menyesal, bukan karena tidak akan makan roti enak itu lagi, namun karena saat itu belum sempat berkenalan dengan sang nenek. Ah, sudahlah, mungkin memang tidak takdirku.Seperti minggu-minggu biasanya, setiap akhir pekan, aku dan teman-teman memanjakan diri untuk sekedar menonton film di bioskop dalam mall. Aku dan teman-teman berjalan dengan ramai membicarakan film yang nanti akan kami tonton. Tiba-tiba sekilah aku melihat walpaper yang biasa aku lihat di toko roti nenek itu. Sejenak aku berhenti dan menarik salah satu lengan temanku. Aku tarik dia untuk menemanik’u kesana. Dan benar, toko itu adalah toko roti milik nenek. Semua jenis rotinya sama, rasanya juga sama. Karena tak sabar dan penasaran akhirnya aku bertanya pada gadis cantik yang menjaga kasir yang ternyata masih sama seperti yang ada di toko.
Kak, toko rotinya baru ya? atau memang pindah kesini? Pindah kak, malah justru lebih banyak buka cabang dimana-mana Wah, oh iya, apa kabar nenek? Nenek sudah dibawa oleh anak-anaknya kak. Beliau tidak tinggal disini lagi Lalu siapa yang meneruskan usaha ini? Tetap milik nenek, tapi dijalankan oleh anaknya yang paling kecil kak Oh seperti itu. Memangnya kenapa kok toko yang disana tutup?” tanyaku lagi karena penasaran Anaknya nenek tidak ingin usahanya hanya disitu dan satu saja kak. Ia ingin memproduksi roti lebih banyak agar bisa dikonsumsi oleh banyak orang juga. Ia juga yang memodali semuanya kak” seperti itu jelasnya Oh, yasudah, semoga nenek cepat sembuh ya, salam untuk beliau Baik kak, terimakasih dan selamat datang kembali Aku pun kembali berkumpul dengan teman-temanku. Dalam hatiku berkata, wah jika toko roti ini akan dibuka di mall-mall, maka akan semakin mudah aku untuk membelinya meskipun jika nanti aku harus berpindah kota untuk mengikuti suamiku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar