Rabu, 10 Juli 2019

Pulang Malu Tak Pulang Rindu


Berangkat dari kisah hidupnya yang begitu mlarat. Hari, laki-laki berbadan sedang dan tidak terlalu tinggi dengan tubuhnya yang kurus, ia memberanikan diri untuk berangkat ke kota J demi menjemput sebuah pekerjaan sebagai kewajibannya menjadi suami dan ayah bagi dua orang anak perempuannya. Langkah kakinya kian mantap dan pandangannya pun tegas dan jelas bahwa dirinya sudah sangat yakin bahwa pilihannya akan bisa merubah nasib keluarga kecilnya. Bus jurusan kota J sudah tiba, dengan tidak menampakkan wajah sedihnya, ia bersalaman dengan sang istri dan kedua putrinya yang mengantarnya hingga ke terminal. Dengan yakin Heri mengangkat tas dan masuk ke dalam bus tersebut.

Pandangannya tak pernah lepas dari tiga orang di luar yang melambai-lambaikan tangannya menyimbolkan arti selamat jalan untuknya. Heri semakin sedih, namun apa boleh buat karena jika terus berdiam diri di rumah sementara sang istri yang bekerja, ia akan selalu menjadi bahan omongan orang-orang di sekitarnya.Bus mulai melaju dan meninggalkan terminal yang ramai. Bus mulai menyusuri jalan raya melewati desa-desa yang kerap Heri lalui setiap hari. Ia hanya diam termenung sambil meyakinkan hatinya berulang kali bahwa pilihannya adalah yang paling tepat. Menjadi seorang laki-laki haruslah bekerja karena bekerja adalah harga diri seorang laki-laki.

Di dalam bus, Heri pun terus mengingat betapa tak berharga dirinya di hadapan keluarga besar sang istri. Sudah menumpang dan belum memiliki pekerjaan juga. Tak jarang dirinya menjadi bahan omongan dan tak jarang juga dirinya tak mendapat sapaan dari keluarga sang istri. Rasa sakit hatinya hanya bisa dipendam sembari terus mencari pekerjaan. Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, ia mendapatkan panggilan kerja menjadi seorang supir pribadi. Tanpa banyak berpikir lagi, Heri segera meminta izin dengan sang istri untuk berangkat. Sang istri yang juga merasakan bagaimana perasaan sang suami pun mengizinkan dan berjanji akan selalu menunggu dan mendoakan sang suami agar selalu dimudahkan setiap langkahnya.

Sesampainya di kota J, Heri mencari rumah majikan yang dituju. Karena belum pernah sama sekali mengunjungi kota tersebut, maka beberapa kesulitan pun menghampirinya. Mulai dari bertanya kepada orang-orang di sekitar, mencari angkutan yang searah, belum juga bertemu dengan tukang ojek yang sukanya menaikkan harga ketika tahu bahwa penumpangnya adalah orang jauh. Tapi, semangat Heri untuk membahagiakan istri dan anaknya tidaklah patah. Ia tetap terus berjuang dan yakin akan usahanya.Setelah beberapa hari bekerja, Heri merasa bahwa hidup di perantauan jauh lebih menyenangkan.

Ia merasa lebih tenang karena tidak bertemu dengan orang-orang yang sering mengatai dirinya pengangguran, tidak bertemu dengan keluarga yang kerap acuh dengannya. Istri dan anaknya pun semakin perhatian walaupun dengan jarak yang jauh. Ia merasa lebih fokus dalam bekerja karena jauh dengan orang-orang yang tidak menyukai dirinya dan bertemu dengan banyak orang baru yang memberikan banyak inspirasi baru. Satu bulan berlalu, Heri sudah mendapatkan gaji dan mengirimkannya kepada istri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di desa. Selain menjadi supir pribadi dan memiliki banyak kenalan baru, ia juga mencari pekerjaan sampingan.

Rezeki yang dihasilkan semakin banyak, namun uang yang diberikan kepada keluarga di rumah tetap sama. Perhatiannya kepada keluarga pun semakin hari semakin berkurang. Heri semakin nyaman dengan teman-teman barunya. Suatu hari, sahabat baru Heri, Opik, datang menghampirinya. Tiba-tiba saja Heri merasa Opik jauh lebih bersahabat. Sambil berjabat tangan, Opik membisikinya sesuatu,Ada mainan sekaligus kerjaan baru bang” kata Opik dengan suara lirih, Apa pi Judi bang Apa? Dosa itu pik! Halah, kalau menang kan lumayan bang bisa buat tambah-tambah pendapatan Karena mendengar bisa menambah pendapatan, Heri langsung saja mengiyakan tawaran Opik. Satu, dua, tiga kali Heri menang dalam berjudi.

Pendapatanya semakin banyak, hal itu membuatnya semakin semangat lagi bermain judi. Ia bermain judi dari malam hingga pagi hari. Akhirnya pekerjaan utamanya sebagai supir pribadi pun terbengkalai dan sang majikan memecatnya.Heri terus dan masih saja bergelut dengan aktivitas judinya. Semua uang yang ditabungnya ia pakai semua untuk modal berjudi. Berulang kali kawannya yang lain mengingatkan dirinya, namun rasa kecanduan sudah hinggap pada dirinya. Kini, Heri kembali menjadi seorang pengangguran yang tak bermoral. Ia ingat lagi dengan keluarganya. Ingin pulang malu, tak pulang rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar