Rabu, 10 Juli 2019

Pekerja Domestik


Namaku Rima. Aku adalah anak pertama dan terakhir di dalam keluarga. Menjadi anak perempuan satu-satunya membuat kedua orang tuaku sangat over protective terhadapku. Mereka kerap kali cemas jika aku pergi terlalu lama. Maka dari itu, aku tidak bisa menjadi seperti teman-teman yang bisa menuntut ilmu di kota yang jauh atau pergi merantau untuk bekerja di luar kota. Ibuku meminta agar aku sekolah di dekat-dekat rumah saja dan ayahku melarangku untuk mencari kerja yang jauh. Ya itulah aku.Aku sudah lulus kuliah dan sudah berhenti bekerja. Ya, aku sudah tidak bekerja. Kini, aku hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Suamiku melarangku untuk mengajar lagi di paud dengan alasan jika aku bekerja, aku harus berangkat pagi sekali dan kadang di jam pulang harus ikut rapat dengan guru-guru di sekolah.

Suamiku mengeluh jika hidupnya seperti tidak terurus. Maka dari itu ia memintaku agar diam saja di rumah dan mengurus pekerjaan rumah. Ia juga berjanji bahwa apa saja yang aku inginkan akan ia penuhi asalkan aku tidak usah bekerja.Aku sudah biasa menuruti kehendak orang tua, maka dari itu aku menjadi seorang perempuan yang penurut. Terlebih pada suamiku. Ia yang kini bertanggung jawab atas diriku dan kebutuhanku. Orang lain selalu memandang bahwa hidupku serba menyenangkan. Aku hanya diam di rumah dan tetap mendapatkan uang dari suamiku. Katanya,Rima adalah wanita yang beruntung.

Aku memang beruntung, tapi aku tak seberuntung teman-temanku yang bisa bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri. Aku merasa hidupku kini terbelenggu akan aturan-aturan yang dibuat oleh suamiku, sementara aku sebagai seorang istri yang hanya menggantungkan hidup padanya, mau tidak mau harus menurut. Semua itu juga demi anakku. Pekerjaanku tidak lain adalah mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, mengurus anak, dan mengurus suamiku.Tiba-tiba ada seorang wanita berkunjung ke rumah ketika aku seorang diri. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Wanita itu mengetuk pintu rumah beberapa kali.

Dari balik kaca aku lihat lebih cermat siapakah gerangan wanita tersebut. Namun tetap saja aku tak bisa mengenalinya. Dengan rasa penasaran aku bukakan pintu rumah dan bertanya siapa dia dan ada tujuan apa datang ke rumahku. Waalaikumsalam” jawabku setelah wanita itu melantunkan salamnya kepadaku. Permisi,apa benar ini rumah Ivan?” tanya wanita itu sembari memandangku. Ya, benar. Saya istrinya” jawabku. Boleh saya masuk mbak?” kata wanita itu dengan mengarahkan ibu jarinya ke arah ruang tamu.Seketika aku mempersilahkannya, “Oh mari silahkan. Ngomong-ngomong ada keperluan apa mbak.

Oh iya mbak, perkenalkan saya Setia, temannya Ivan. Saya bekerja di bank dekat sini. Kebetulan kemarin saya mau mencari orang untuk bekerja di tempat saya karena ada posisi kerjaan yang kosong. Nah, Ivan pernah cerita dulu istrinya pernah kuliah di jurusan perbankan. Maka dari itu saya mau kasih tau informasi sama mbak Aku sempat berfikir sejenak darimana wanita ini bisa tau alamat rumahku. Ah mungkin dari Ivan atau temannya yang lain gumamku, “Oh iya, tapi maaf sekali mbak saya juga repot di rumah ngurus suami dan anak. “Oh seperti itu, oh iya ini sekalian saya mau mengembalikan bolpoin Ivan yang jatuh kemarin waktu makan siang bareng mbak. Oh, iya mbak” jawabku dengan nada sedikit tidak enak.

Yasudah, saya pamit dulu. Nanti apabila berkenan mbak Rima bisa hubungi saya. Ivan punya nomor saya kok mbak. Iya mbak, terimakasih untuk informasinya. Wanita itu pun pergi dengan meninggalkan luka dan rasa curiga di hatiku. Aku khawatir jika suamiku di luar sana memang dekat dengan wanita lain termasuk wanita tadi. Aku memang pernah mendengar suamiku menelfon seseorang dan berkata, “Oh maaf istriku tidak boleh bekerja. Dia harus fokus dengan pekerjaannya di rumah.” Aku jadi takut apakah ketidakbolehannya padaku untuk bekerja hanya karena dirinya takut jika aku tau gerak gerik dirinya di luar sana? Tapi, apalah dayaku yang hanya menumpang hidup padanya. Aku tak tega mencurigainya. Ia sudah terlalu baik untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar