Rabu, 10 Juli 2019
Oh Gini Rasanya
Senin pagi yang cerah diiringi dengan suara tapak kaki orang-orang berjalan menuju pasar atau tempat bekerja lainnya dan suara langkah sepatu anak-anak berangkat ke sekolah membuat Pak Ino juga semangat menjalani aktivitasnya sebagai seorang pengrajin kandang ayam. Setelah mandi dan sarapan, ia mengeluarkan peralatannya seperti gergaji, palu, dan paku. Pak Ino tidak pergi kemana-mana, ia mengerjakan pekerjaannya di samping rumah, di pelataran yang cukup luas miliknya yang sengaja dikosongkan untuk keperluan dirinya jika mendapat pesanan kandang ayam.
Pak Ino sudah mulai menggergaji bambu-bambu yang sudah disiapkannya dari kemarin sore. Ia terlihat begitu serius dan menikmati setiap apa saja yang sedang dikerjakannya. Pikiriannya fokus kepada bambu yang sedang dipotongnya dan dibelah untuk kembali dirapihkan. Sesekali pandangannya beralih pada alat-alat yang hendak digunakannya.Dalam keseriusannya, tiba-tiba suara tangis anak kecil yang merupakan keponakannya mengambil alih perhatiannya. Pak Ino segera meletakan bambu dan peralatan yang dipegangnya. Tangisan itu terdengar semakin keras dari rumah sebelah yang adalah rumah adiknya. Pak Ino masih memperhatikan suara itu yang kemudian suaranya mendekat. Keponakannya keluar dari rumah dengan tangisannya.
Rupanya ia tidak diberi uang saku oleh ibunya oleh karena dirinya yang bandel. Pak Ino menghampirinya dan memberikan uang saku sebesar dua ribu rupiah. Keponakannya pun berhenti menangis dan segera berangkat ke sekolah sembari menunjukkan wajah manisnya kepada Pak Ino dan wajah Kecutnya kepada ibunya.Hari mulai siang dan Pak Ino sudah lelah dengan pekerjaannya. Bau masakan sang istri membuatnya seperti sebuah layangan yang ditarik oleh pemainnya. Pak Ino pun meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke dalam rumah. Niat hati ingin cepat makan, namun ternyata kenyataan berkata lain. Sang istri diam cemberut hingga membuat dirinya bingung. Tak lama sang istri membuka pembicaraan.
Ngapain sih pak, pake ngasih-ngasih uang saku segala sama si Ahan?” begitulah tanya sang istri. Ya ngga papa wong tadi dia ngga dikasih uang saku sama ibunya. Mungkin ibunya lagi ngga ada uang.” Wong kita juga butuh uang kok pak! itukan ibunya Ahan bisa kerja, wong bapaknya aja kerja masa nyanyiannya nggak punya uang terus. Heran aku! Pak Ino menghela nafasnya dan mencoba menenangkan hati istrinya, “Ngga apa-apa bu, selagi kita ada rezeki ya kita bagikan saja. Toh mungkin di dalam rezeki yang kita dapatkan tersimpan juga rezeki milik mereka. Kita kalau kenapa-kenapa juga pasti mereka dulu yang nolong kita. Hah, banyak alesannya. Kita juga nggak punya uang pak. Kita masih punya uang bu, kemarin kan anak perempuan kita baru aja ngasih uang. Lupa ya bu Nggak lupa, tapikan ditabung pak, buat lebaran.
Untuk lebaran nanti ada rezeki yang lain bu. Sang istri tetap saja diam dan cemberut. Selesai masak ia membiarkan Pak Ino makan sendirian di ruang makan. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil cucian yang sudah direndam dengan pewangi sebelum memasak tadi. Ia berjalan menuju tempat jemur di depan rumah. Tiba-tiba dilihatnya ramai-ramai orang berkumpul. Karena penasaran, ia pun ikut berkumpul. Ternyata seorang tetangganya sedang membagi-bagikan bungkusan nasi kepada anak-anak sekolah yang melewati jalan itu. Tak lama kemudia, istri Pak Ino meminta satu kepada orang yang membagikan bungkusan nasi tersebut. Tapi permintaannya ditolak karena nasi yang dibagikan khusus untuk anak-anak yang berseragam sekolah.
Takutnya mereka, anak-anak itu ada yang belum makan atau belum sempat makan di rumah. Istri Pak Ino pun kembali kesal dan mengatai si pembagi nasi adalah orang yang pelit.Sesampainya di rumah, istri Pak Ino kembali membuka mulutnya Dasar, pelit banget, minta bagi satu aja nggak boleh Pak Ino yang sedari tadi mengintip dari jendela pun sudah tau bahwa istrinya kesal gara-gara tidak dibagi nasi. “Makannya bu, jangan jadi orang pelit. Toh kesal sendiri jika dipelitin sama orang lain. Istri Pak Ino pun kembali ke halaman rumah untuk menjemur baju dengan raut wajahnya yang kesal dan malu sambil menggumam dalam hati, “Oh gini rasanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar