Rabu, 10 Juli 2019

Malaikat Itu


Sudah hampir dua tahun, temanku, Hakim, menjalani masa-masa rehabilitasi karena kecanduan obat-obatan terlarang. Ditambah saat ini dirinya terjangkit penyakit bronkitis karena terlalu seringnya merokok. Badannya kurus dan kering. Tato di seluruh tubuhnya semakin membuat dirinya terlihat dekil. Ia sudah tidak pernah pergi jauh-jauh dan sudah lama menghabiskan waktunya untuk berada di rumah.Kegiatan Hakim setiap hari adalah menggambar. Bakat menggambarnya sudah ada dari zaman masih sekolah dulu. Ia lebih suka menuangkan ide-ide dan perasaannya lewat sebuah gambar. Tak jarang dulu aku suka sekali main ke rumahnya dan betah sekali meskipun menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk melihatnya menggambar.

Kreasi gambarnya selalu unik. Ia menggambar sesuatu yang sangat jarang orang lain gambar. Ia menggambar makhluk-makhluk dari dunia lain dan monster-monster yang banyak ditakuti oleh banyak orang.Zaman SMA kelas dua, Hakim mulai berteman dengan teman-teman yang brutal. Ia berubah menjadi siswa yang badung dan suka membolos. Ia lebih sering keluar malam dan pulang saat pagi tiba. Tak heran jika postur tubuhnya yang semula terlihat sehat dan segar berubah menjadi kucal dan bau. Asap rokok pun menjadi parfum andalannya. Akhirnya aku memilih untuk memisahkan diri saja.

Dengan modal menggambarnya, Hakim diminta sebuah toko baju untuk menggambar dan membuat design gambar seperti yang dilakukannya selama ini. Bayaran yang diberikan pun tidak cuma-cuma. Ia mendapatkan banyak uang dari hasil pesanan gambarnya. Tapi, yang sangat disayangkan adalah uang yang seharusnya ditabungnya atau digunakan untuk keperluan yang lain, justru malah ia gunakan untuk membeli obat-obat terlarang. Lingkungan dan teman-teman yang selama ini bersamanya benar-benar sudah merusak semuanya. Hakim menjadi semakin brutal dan tidak beraturan.

Sang ayah tak tega melihat keadaan anaknya yang suatu ketika harus ditangkap polisi karena ketahuan meminum minuman keras di satu tempat. Namun, tamparan dahsyat darinya berapa kali mendarat di pipi Hakim. Sang ayah merasa kecewa dengan kelakuan Hakim sekarang ini. Sungguh berbeda dengan yang dulu. Hakim adalah seorang anak yang penurut dan selalu mendapat peringkat tiga besar. Kini, Hakim sudah berubah hingga banyak dari teman-teman menjauhi dirinya.
Hakim yang sudah terlanjur dikuliahkan oleh sang ayah di jurusan seni rupa ternyata harus berhenti. Pihak kampus memberi informasi bahwa Hakim tidak membayar uang semesteran tanpa memberikan keterangan kepada pihak kampus. Padahal orang tuanya berkali-kali memberikan uang kepada Hakim untuk bayaran semester. Uang itu ternyata digunakannya untuk membeli minuman dan obat-obatan yang terlarang.

Ibunya yang mendengar kabar tersebut seketika jatuh sakit. Beliau meminta suaminya untuk menghentikan kelakuan Hakim yang sudah melanggar batas itu. Sang ibu berkata lirih pada ayah untuk tidak membentak ataupun memukul Hakim. Tapi, bicaralah dengannya dan dengarkan apa yang menjadi kemauannya, kemudian dengan pelan ajaklah dia untuk kembali kepada jalan yang benar.
Ayahnya pun menjemput Hakim yang sudah berada dalam keadaan yang brutal dan tidak terurus. Ia datang dengan baik-baik dan mencoba mendengarkan apa yang diinginkan anaknya. Hakim berkata bahwa dirinya hanya ingin mencari jati dirinya, namun ternyata lingkungan memang membuat dirinya terlena dan sulit untuk kembali. Sebenarnya Hakim sendiri ingin sekali memperbaiki dirinya, namun belum ada seseorang yang mengajaknya untuk kembali.

Ia mengira semua orang menjauhinya. Kemudian dengan pelan sang ayah mengajaknya untuk kembali menjadi pribadi yang baik. Ia membawa Hakim ke sebuah rumah sakit untuk mengecek kesehataannya. Hakim menerima banyak motivasi yang membangun dan akhirnya dengan bertahap Hakim mau pulang ke rumah dan menjalani rehabilitasi dengan rutin. Jiwanya yang hampir berantakan itu ditumbuhkannya lagi dengan seorang psikiater yang selalu berusaha mengembalikan lagi pikirannya yang kacau dan ustad yang mengajarinya mengaji dan memberi ceramah setiap saat. Tak lupa juga sang ayah mendukung bakat anaknya untuk selalu bisa berekpresi, ia memfasilitasi Hakim dengan peralatan gambar yang mendukung dan mulai memperhatikan Hakim dengan segala aktivitasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar